Did you know?

Twitter Instagram

HORAS MEDAN

Hi Medan…. Pertama kalinya aku mengunjungi tempat ini. Bisa dibilang senang bisa punya kesempatan untuk menginjakan kaki di kota ini.  Meskipun hanya menjadi seorang pekerja, bukan traveler. Kesan pertama datang di bandara Internasional Kualanamu adalah tidak menyangka terdapat bandara sebagus dan setenang ini.

Di sana kita akan sulit memesan kendaraan online, karena penjagaan yang sangat ketat. Hal itu aku ketahui berkat petugas bandara yang memberitahu (sebenarnya sih aku yang banyak tanya saja). Sebelum bertanya kepada petugas,  aku sempat untuk berfoto di tempat yang telah disediakan. Senang hingga terlihat nyaman bisa berfoto dengan bapak Jokowi, padahal hanya gambar tiruannya  saja….doakan agar bisa datang diundang ke istana dan bisa berswafoto dengan beliau ya. Kembali lagi pada pembicaraan awal. Dimulai dari situ lah aku banyak bertanya bagaimana caranya agar bisa sampai ke kota Medan.

Kebingungan ini diawali karena teman yang seharusnya mengatur penjemputanku lupa memberitau orang yang seharusnya sudah ditugaskan untuk menjemput. Tapi berkat kesalahan itu pula aku jadi banyak tau tentang kota Medan. Supir yang mengantarku ketempat tujuan, bercerita banyak sekali tentang Medan. Keadaan kotanya, sifat penduduknya, cerita dia di masa lalu bersama teman-temannya, dan masih banyak lagi. Ketika diceritakan hal tersebut yang ada dipikiran adalah aku tidak bisa hidup sendirian di Medan (sad) itu dikarenakan aku yang penakut ini berada di kota yang lebih keras dari Jakarta (sepertinya). Oh iya dari bandara hingga ke Centre Point Medan ditempuh kurang lebih sekitar 2 jam. Hal itu mungkin karena keadaan jalan yang agak macet dan ramai.

Pada akhirnya aku sampai di tempat tujuan dan dari situ lah Negara api menyerang. Diguyur oleh teriknya matahari tidak mematahkan semangat untuk menyelesaikan tugasku di Medan dengan baik. Selesai technical meeting aku bersama tim, menyempatkan makan malam di salah satu restoran mie aceh. Aku memesan Mie Aceh goreng kepiting. Mie Aceh di sini tidak jauh berbeda dengan di Jakarta, hanya saja cita rasanya lebih berani alias lebih pedas dari pada di Jakarta sampai-sampai aku tidak dapat menghabiskan satu porsi. Ada sedikit ke khawatiranku sebelum datang ke Medan, makanannya yang pedas. Takut jika tidak ada makanan yang cocok dengan kondisi lidahku.

Dihari “peperangan” tersebut, aku beserta tim berharap agar cuaca hari itu bersahabat untuk kami yang melangsungkan acara di luar ruangan. Hingga siang hari acara berjalan sesuai dengan rundown yang telah direncanakan. Namun, menjelang sore hari terjadilah hal yang tidak kami inginkan, yaitu hujan deras melanda tempat acara. Terpaksa acara kami tunda sampai keadaan memungkinkan.

Singkat cerita setelah semua sudah kembali seperti semula dan acara dapat dimulai kembali, sampailah pada sore hari. Dan tanpa disangka… aku kedatangan tamu, teman-temanku di Medan. Tanpa sepengetahuanku, mereka benar-benar datang untuk menjumpaiku di waktu yang singkat ini. Padahal cuaca saat itu membuat malas untuk keluar rumah. Terharu rasanya dapat bertemu dengan mereka. Perjuanganku tidak terhenti meski sudah satu tahun tidak berada di tempat itu. Diingat oleh mereka saja sudah sangat senang,  apalagi mereka sampai rela menerjang cuaca yang tidak bersahabat demi pertemuan ini.

Setelah semua selesai dengan penuh drama, pada hari berikutnya kami menggunakan sisa waktu yang dimiliki untuk mendatangi Danau Toba. Tidak banyak tempat yang kami kunjungi. Ya…. Karena memang tujuannya bukan untuk menikmati suasana kota dan sekitarnya. Walau hanya sehari dan tidak dapat menikmati keindahan itu lebih lama, namun hal yang singkat itu sudah banyak mengingatkanku akan Lombok. Danau yang seperti pantai, sunyi dengan hembusan angin. Tidak ada pasir pantai, suasana itu sudah cukup untuk sementara waktu.

Sedikit info yang dapat aku berikan adalah untuk menyeberang ke Samosir keberangkatan kapal paling malam pada pukul 19:30 dan keberangkatan paling pagi pukul 08:00. Satu orang dikenakan biaya penyeberangan sebesar 15rb. Ini berlaku untuk kapal yang tidak mengangkut barang (mobil). Sebelum menaiki kapal, kita harus mengisi data penumpang terlebih dahulu. Dan pembayaran dilakukan diatas kapal.

Selama perjalanan ke Medan, aku mendokumentasikan beberapa foto dan video. Awalnya aku ingin membuat video untuk mengisi kekosongan di “channel youtube” yang tanpa sengaja dibuat itu. Kira-kira harus aku edit atau tidak?

— 

Perhelatan Teater

Awal bulan April 2019 mendapat salah satu kesempatan besar untuk memulai karir yang baru. Ya, sebagai staff dokumentasi suatu perhelatan teater ternama di Jakarta. Menjadi salah satu team di sebuah komunitas adalah suatu kesempatan baru. Acara ini adalah ajang perhelatan yang digelar 2 tahun sekali yang dimulai dari tahun 2014 silam.

Pada saat sudah mendekati waktu pertunjukan sampai selesai pun, banyak hal yang sulit untuk dilupakan. Selain mendapat pengalaman, aku juga mendapatkan banyak kenalan baru. Banyak berbicara dan bekerja sama dengan orang baru juga.

Mungkin aku tidak memahami mengenai arti sebuah teater dan tidak terlalu banyak berkontribusi pada project ini. Tapi disaat pertunjukan berlangsung dan saat itu terdapat sebuah kekurangan, aku sebagai penonton juga merasa terdapat kejanggalan dan sedikit kekecewaan. Disamping itu pula, teman baikku sebagai sutradara di project ini. Aku tidak memahami betul perasaannya saat itu. Namun, aku mengetahui rasa kecewa jika suatu hal yang sudah dipersiapkan dengan sepenuh hati berujung tidak sesuai dengan harapan. Inginku menemani disaat dia merasa kecewa, tapi yang aku rasakan dia ingin memikirkan hal itu sendirian. Memendam perasaan kecewa sambil memikirkan bagaimana caranya untuk menyatukan pikiran banyak kepala, dan idealisme nya sendiri.

Dua kali pertunjukan dirasa kurang untuk sebuah cerita sebagus ini. Jika pada pertunjukan awal banyak mendapat kekecewaan, dipertunjukan akhir semua berjuang untuk menampilkan yang terbaik. Meskipun masih terdapat kekurangan dan tidak sempurna seperti yang diharapkan. Mentor yang hadir pun juga terlihat puas akan kerja keras para kru dan pemain. Selain itu, terdapat penonton yang bahagia melihat pertunjukan ini. Aku sebagai orang dibelakang layar dan bertugas mengabadikan setiap momen merasa bangga terhadap diri sendiri yang telah bertahan untuk sampai pada kesempatan kali ini.

Sempat bimbang harus mengambil kesempatan ini atau tidak, karena merasa belum pantas untuk menjadi seorang fotografer pada ajang sebesar ini. Namun, setelah banyak berpikir aku menerima “tantangan” ini. Dan benar saja…. Ketika aku menjalankan kesempatan ini, aku terlihat lebih bahagia. Dan mulai dari situ aku mempunyai mimpi yang baru. Melanjutkan apa yang pernah aku mulai, menjadi seorang fotografer yang lebih professional lagi. Perjalanan untuk menjadi orang besar pastinya tidak mudah, namun menjadi seorang yang dapat membekukan waktu adalah kebahagiaan tersendiri. Semoga dimasa yang akan datang aku lebih banyak mempunyai kesempatan lain ya…..

Teruntuk temanku yang sudah member kesempatan, terima kasih banyak atas pemberiannya. Maaf juga atas kekuranganku yang ada. Kamu sudah terlalu banyak berkorban demi membantu orang-orang terdekat mu. Kamu terlalu baik tapi jangan jadi orang jahat ya hehe tapi percayalah akan ada hikmah di balik kejadian yang mengecewakan mu ya. Terus berjuang demi mimpi mu juga.

Jadi, untuk kalian para pembaca…. Sudah punya mimpi yang ingin kalian tuju? Kalau sudah ada, bisa diceritakan di twitter kuya. Kalau belum bisa sharing-sharing, aku senang mendengarkan cerita orang lain karena bisa jadi pembelajaran dan pengetahuanku. Terima kasih sudah mau membaca pengalaman ini.

Express trip in Malang

Sudah kedua kalinya aku mendatangi kota Malang. Untuk kedua kalinya ini aku datang sebagai turis lokal karena yang sebelumnya (beberapa waktu lalu) menjadi seorang pekerja yang tidak menikmati suasana di kota ini. Bagi orang yang “belum” pernah ke kota yang satu ini, Malang adalah salah satu kota yang sejuk untuk didatangi. Namun, kebiasaan sebagian masyarakat kota ini tidak jauh berbeda dari masyarakat perkotaan lainnya. Kami datang pada minggu pagi. Saat sampai ke hotel kami memutuskan untuk beristirahat sampai malam, karena kami ada rencana untuk pergi ke bromo pada dini hari. Ketika akhir pekan tiba, kota ini akan menjadi panik dan tidak membiarkan masyarakatnya untuk pergi piknik. Dengan kata lain akan terjadi kemacetan. Tapi tidak semacet di Jakarta dan sekitarnya. Bagi ku yang tidak betah untuk di hotel berlama-lama merasa bosan tidak ada kegiatan hingga dini hari. Ingin pergi keluar namun dikarenakan aku pergi bersama orang-orang yang tidak seumuran, maka aku harus mengikuti jadwal yang sudah ada. 3 hari 2 malam memang sangatlah singkat. Namun jika waktu tersebut tidak digunakan dengan baik, maka akan menjadi sangat panjang. Beruntungnya pada jam makan malam aku dapat ikut ke suatu tempat yang tidak direncanakan sebelumnya. Aku dapat melihat Malang Jazz Festival meski tidak dapat berlama-lama berada di sana. Saat kami sampai di tempat acara ada satu fun fact, aku bersama Uty langsung mengenali tempat itu. Ternyata hotel dekat festival itu adalah tempat kami menginap saat masih bekerja bersama. Diwaktu yang bersamaan aku berpikir memang yang sudah terjadi dimasa sebelumnya akan berhubungan dengan masa depan. Ok, kembali pada topik awal. Malam tiba, saatnya kami bersiap untuk pergi ke bromo. Kira-kira kami akan menghabiskan waktu 3 jam perjalanan. Karena malam dan keadaan fisik ku yang agak kelelahan, aku memilih untuk tidur diperjalanan sampai tiba di titik penjemputan. Namun, dikarenakan jalan yang berliku aku terbangun dan melihat keadaan sekitar. Ternyata jalan yang kami lewati sangat gelap dan berkelok. Jadi…. usahakan bagi yang ingin pergi ke bromo pada malam hari, ajak kerabat yang pernah pergi ke bromo. Karena jika tidak membawa kerabat bisa jadi hilang arah. Singkat cerita kami sampai ke titik penjemputan, Wonokitri. Di sana banyak penjual pakaian hangat. Jika kalian baru pergi ke kawasan ini, jangan heran dengan penjual disana. Ada banyak penjual dan mereka berlomba untuk mendapatkan pembeli. Untuk ke toilet kalian harus membayar tiga ribu rupiah per orang. Akhirnya jeep yang sudah kami sewa sebelumnya datang juga. Tak lama setelah itu, kami langsung menaiki mobil dan langsung memulai perjalanan untuk sampai ke puncak gunung bromo. Di perjalanan kita dapat melihat titik-titik lampu yang berasal dari rumah-rumah warga. Untuk sampai dari titik penjemputan ke tempat tujuan membuthkan waktu sekitar 20 menit. Karena jalan yang menanjak, berkelok, dan terlalu kecil hanya untuk satu mobil, kami pun bertanya kepada supir jeep “bagaimana jika ada mobil yang turun?” dan supir itu memberi info bahwa ada jadwal untuk naik dan turun mobil jeep. Sampai lah kami di batas pengantar mobil jeep. Dari sana kita harus berjalan kaki untuk sampai ke tempat melihat sunrise. Karena udara yang terlalu dingin sebelum kami sampai ke tujuan, kami mampir ke salah satu warung untuk membeli minuman hangat. Di sana kami bertemu pili dan toni. Mereka ditemani oleh mas bagus (karena tidak mau dipanggil pak) sebagai tour guide. Awalnya aku tidak melihat keberadaan mereka disana, namun salah satu dari rombongan berbicara dengan mereka. Mereka berasal dari Sepanyol. Setelah pili meminta foto bersama aku memberanikan diri untuk berbicara banyak dengan mereka, ternyata mereka sangat baik dan ramah. Singkat cerita mereka adalah sepasang traveler. Yang aku tahu setelah mereka dari bromo, mereka akan pergi ke Jogja dan Bali. Senang rasanya mempunyai kerabat dari berbagai macam tempat. Setelah kami beristirahat sejenak, saya beserta rombongan kembali berjalan ke titik kumpul sekitar pukul 4 pagi. Rupanya disana sudah sangat ramai oleh pengunjung lainnya. Dengan cepat teman-teman ku yang lain memilih tempat untuk melihat sun rise dari tempat terbaik. Namun, aku memilih untuk berdiri di depan agar dapat hasil foto terbaik. Saran ku jika ingin berdiri di depan untuk memotret, gunakan pakaian yang lebih tebal tak lupa dengan topi agar nyaman saat mengambil gambar.


Karena terlalu fokus mengambil gambar dan berbicara dengan pengunjung lain, tanpa sadar aku kehilangan jejak dari rombongan ku yang lain. Selagi aku mencari yang lainnya, aku sempat mengabadikan diri ku dengan latar pemandangan yang indah.
 

Tanpa disengaja aku bertemu dengan pili kembali. Ketika aku bilang terpisah dari rombongan dan hanya menemukan salah satunya, mereka sangat khawatir. Dengan baik hati (karena ponsel ku tidak mendapatkan sinyal) mas bagus meminjamkan ponselnya untuk menelfon salah satu dari rombongan ku. Alhasil aku bertemu kembali dengan rombongan ku dan kami pun berpisah.
 

Waktu menunjukan hampir pukul 6 pagi. Menurut supir jeep, waktu yang disediakan untuk melihat sunrise maksimal sampai pukul 6 pagi. Banyak orang-orang yang turun karena sudah waktunya untuk melanjutkan perjalanan. Tujuan berikutnya adalah tempat yang mirip padang savanna, bukit teletubies, dan kawah bromo. Namun sayang, karena keadaan beberapa orang tidak fit untuk berjalan +/- 3 Km untuk sampai ke kawah bromo kami memutuskan untuk melewatinya dan langsung menuju ke bukit teletubies. Di bukit teletubies tidak kalah dingin dengan puncak tempat melihat sunrise. Karena cuaca berangin ketika aku mengunjungi tempat itu dan meskipun terdapat matahari, jangan lupa untuk tetap memakai masker untuk menghindari dari pasir yang berterbangan. Pemandangan disana sangat indah. Terdapat gunung, tebing-tebing dan hamparan luas. Banyak spot-spot bagus untuk mengabadikan gambar.
 

Setelah dari bukit teletubies, kami melanjutkan ke padang savanna. Namun karena cuaca yang kurang mendukung kami memilih hanya untuk berfoto sebentar saja dengan rombongan. Menurut supir jeep, karena cuaca sedang kemarau maka disana menjadi lebih berangin dan lebih baik mengunjungi pada saat hujan. Namun, menurutku lebih baik ketika menjelang kemarau saja agar tidak terlalu berangin. Karena banyak spot yang kami lewatkan maka kami pulang sekitar pukul 9 pagi dari bromo dan sampai hotel sekitar pukul 12 siang. Pada malam harinya aku pergi ke Batu Night Spectacular (BNS). Sebelum ke BNS kami ingin pergi ke museum angkut namun, karena waktu yang tidak cukup maka kami beralih ke BNS.
 

Tiket masuk BNS yaitu Rp 30.000/orang. Namun jika ingin membeli paket tiket masuk dan tiket untuk semua permainan seharga Rp 99.000/orang. Disana terdapat banyak permainan. Kami hanya mencoba beberapa permainan, diantaranya : go kart seharga Rp 50.000/orang untuk 2 putaran. Kids Zone seharga Rp 10.000 untuk 4 tiket. Trick Art Gallery seharga Rp 15.000/orang. Flying Swinger seharga Rp 12.000/orang. Semua harga ini berlaku untuk hari kerja.
 

Waktu sudah menampilkan pukul sembilan malam. Waktunya kami pulang, karena kebetulan penginapan kami cukup jauh. Membutuhkan waktu sekitar 30-45 menit untuk sampai ke penginapan. Keesokan harinya kami sudah harus kembali ke Jakarta. Karena tiket kepulangan kami pada sore hari, maka kami menyempatkan untuk membeli sedikit oleh-oleh di gudang oleh-oleh. Disana cukup luas dan lengkap. Ada berbagai macam keripik buah. Mulai dari keripik apel hingga salak pun ada. Waktu makan siang telah tiba, kami memutuskan untuk makan cwie mie. Makanan ini mirip dengan bakwan Malang/Mie ayam, TAPI ini lebih nikmat dari pada kedua jenis mie tersebut. Jika kalian berkesempatan pergi ke Malang jangan lupa untuk mencoba CWIE MIE. Setelah makan siang kami pun menuju ke bandara untuk kembali ke Jakarta. Disinilah perjalanan kami di Malang berakhir. Semoga ada kesempatan untuk kembali ke Malang untuk menjelajahi tempat-tempat yang belum sempat aku kunjungi. Dan semoga bisa menjelajahi berbagai macam tempat yang lainnya. Selanjutnya akan pergi kemana ya?

© 2018 Template by Colorlib | Website by Uty Bonita