Did you know?

Twitter Instagram

Express trip in Malang

Sudah kedua kalinya aku mendatangi kota Malang. Untuk kedua kalinya ini aku datang sebagai turis lokal karena yang sebelumnya (beberapa waktu lalu) menjadi seorang pekerja yang tidak menikmati suasana di kota ini. Bagi orang yang “belum” pernah ke kota yang satu ini, Malang adalah salah satu kota yang sejuk untuk didatangi. Namun, kebiasaan sebagian masyarakat kota ini tidak jauh berbeda dari masyarakat perkotaan lainnya. Kami datang pada minggu pagi. Saat sampai ke hotel kami memutuskan untuk beristirahat sampai malam, karena kami ada rencana untuk pergi ke bromo pada dini hari. Ketika akhir pekan tiba, kota ini akan menjadi panik dan tidak membiarkan masyarakatnya untuk pergi piknik. Dengan kata lain akan terjadi kemacetan. Tapi tidak semacet di Jakarta dan sekitarnya. Bagi ku yang tidak betah untuk di hotel berlama-lama merasa bosan tidak ada kegiatan hingga dini hari. Ingin pergi keluar namun dikarenakan aku pergi bersama orang-orang yang tidak seumuran, maka aku harus mengikuti jadwal yang sudah ada. 3 hari 2 malam memang sangatlah singkat. Namun jika waktu tersebut tidak digunakan dengan baik, maka akan menjadi sangat panjang. Beruntungnya pada jam makan malam aku dapat ikut ke suatu tempat yang tidak direncanakan sebelumnya. Aku dapat melihat Malang Jazz Festival meski tidak dapat berlama-lama berada di sana. Saat kami sampai di tempat acara ada satu fun fact, aku bersama Uty langsung mengenali tempat itu. Ternyata hotel dekat festival itu adalah tempat kami menginap saat masih bekerja bersama. Diwaktu yang bersamaan aku berpikir memang yang sudah terjadi dimasa sebelumnya akan berhubungan dengan masa depan. Ok, kembali pada topik awal. Malam tiba, saatnya kami bersiap untuk pergi ke bromo. Kira-kira kami akan menghabiskan waktu 3 jam perjalanan. Karena malam dan keadaan fisik ku yang agak kelelahan, aku memilih untuk tidur diperjalanan sampai tiba di titik penjemputan. Namun, dikarenakan jalan yang berliku aku terbangun dan melihat keadaan sekitar. Ternyata jalan yang kami lewati sangat gelap dan berkelok. Jadi…. usahakan bagi yang ingin pergi ke bromo pada malam hari, ajak kerabat yang pernah pergi ke bromo. Karena jika tidak membawa kerabat bisa jadi hilang arah. Singkat cerita kami sampai ke titik penjemputan, Wonokitri. Di sana banyak penjual pakaian hangat. Jika kalian baru pergi ke kawasan ini, jangan heran dengan penjual disana. Ada banyak penjual dan mereka berlomba untuk mendapatkan pembeli. Untuk ke toilet kalian harus membayar tiga ribu rupiah per orang. Akhirnya jeep yang sudah kami sewa sebelumnya datang juga. Tak lama setelah itu, kami langsung menaiki mobil dan langsung memulai perjalanan untuk sampai ke puncak gunung bromo. Di perjalanan kita dapat melihat titik-titik lampu yang berasal dari rumah-rumah warga. Untuk sampai dari titik penjemputan ke tempat tujuan membuthkan waktu sekitar 20 menit. Karena jalan yang menanjak, berkelok, dan terlalu kecil hanya untuk satu mobil, kami pun bertanya kepada supir jeep “bagaimana jika ada mobil yang turun?” dan supir itu memberi info bahwa ada jadwal untuk naik dan turun mobil jeep. Sampai lah kami di batas pengantar mobil jeep. Dari sana kita harus berjalan kaki untuk sampai ke tempat melihat sunrise. Karena udara yang terlalu dingin sebelum kami sampai ke tujuan, kami mampir ke salah satu warung untuk membeli minuman hangat. Di sana kami bertemu pili dan toni. Mereka ditemani oleh mas bagus (karena tidak mau dipanggil pak) sebagai tour guide. Awalnya aku tidak melihat keberadaan mereka disana, namun salah satu dari rombongan berbicara dengan mereka. Mereka berasal dari Sepanyol. Setelah pili meminta foto bersama aku memberanikan diri untuk berbicara banyak dengan mereka, ternyata mereka sangat baik dan ramah. Singkat cerita mereka adalah sepasang traveler. Yang aku tahu setelah mereka dari bromo, mereka akan pergi ke Jogja dan Bali. Senang rasanya mempunyai kerabat dari berbagai macam tempat. Setelah kami beristirahat sejenak, saya beserta rombongan kembali berjalan ke titik kumpul sekitar pukul 4 pagi. Rupanya disana sudah sangat ramai oleh pengunjung lainnya. Dengan cepat teman-teman ku yang lain memilih tempat untuk melihat sun rise dari tempat terbaik. Namun, aku memilih untuk berdiri di depan agar dapat hasil foto terbaik. Saran ku jika ingin berdiri di depan untuk memotret, gunakan pakaian yang lebih tebal tak lupa dengan topi agar nyaman saat mengambil gambar.


Karena terlalu fokus mengambil gambar dan berbicara dengan pengunjung lain, tanpa sadar aku kehilangan jejak dari rombongan ku yang lain. Selagi aku mencari yang lainnya, aku sempat mengabadikan diri ku dengan latar pemandangan yang indah.


Tanpa disengaja aku bertemu dengan pili kembali. Ketika aku bilang terpisah dari rombongan dan hanya menemukan salah satunya, mereka sangat khawatir. Dengan baik hati (karena ponsel ku tidak mendapatkan sinyal) mas bagus meminjamkan ponselnya untuk menelfon salah satu dari rombongan ku. Alhasil aku bertemu kembali dengan rombongan ku dan kami pun berpisah.


Waktu menunjukan hampir pukul 6 pagi. Menurut supir jeep, waktu yang disediakan untuk melihat sunrise maksimal sampai pukul 6 pagi. Banyak orang-orang yang turun karena sudah waktunya untuk melanjutkan perjalanan. Tujuan berikutnya adalah tempat yang mirip padang savanna, bukit teletubies, dan kawah bromo. Namun sayang, karena keadaan beberapa orang tidak fit untuk berjalan +/- 3 Km untuk sampai ke kawah bromo kami memutuskan untuk melewatinya dan langsung menuju ke bukit teletubies. Di bukit teletubies tidak kalah dingin dengan puncak tempat melihat sunrise. Karena cuaca berangin ketika aku mengunjungi tempat itu dan meskipun terdapat matahari, jangan lupa untuk tetap memakai masker untuk menghindari dari pasir yang berterbangan. Pemandangan disana sangat indah. Terdapat gunung, tebing-tebing dan hamparan luas. Banyak spot-spot bagus untuk mengabadikan gambar.


Setelah dari bukit teletubies, kami melanjutkan ke padang savanna. Namun karena cuaca yang kurang mendukung kami memilih hanya untuk berfoto sebentar saja dengan rombongan. Menurut supir jeep, karena cuaca sedang kemarau maka disana menjadi lebih berangin dan lebih baik mengunjungi pada saat hujan. Namun, menurutku lebih baik ketika menjelang kemarau saja agar tidak terlalu berangin. Karena banyak spot yang kami lewatkan maka kami pulang sekitar pukul 9 pagi dari bromo dan sampai hotel sekitar pukul 12 siang. Pada malam harinya aku pergi ke Batu Night Spectacular (BNS). Sebelum ke BNS kami ingin pergi ke museum angkut namun, karena waktu yang tidak cukup maka kami beralih ke BNS.


Tiket masuk BNS yaitu Rp 30.000/orang. Namun jika ingin membeli paket tiket masuk dan tiket untuk semua permainan seharga Rp 99.000/orang. Disana terdapat banyak permainan. Kami hanya mencoba beberapa permainan, diantaranya : go kart seharga Rp 50.000/orang untuk 2 putaran. Kids Zone seharga Rp 10.000 untuk 4 tiket. Trick Art Gallery seharga Rp 15.000/orang. Flying Swinger seharga Rp 12.000/orang. Semua harga ini berlaku untuk hari kerja.


Waktu sudah menampilkan pukul sembilan malam. Waktunya kami pulang, karena kebetulan penginapan kami cukup jauh. Membutuhkan waktu sekitar 30-45 menit untuk sampai ke penginapan. Keesokan harinya kami sudah harus kembali ke Jakarta. Karena tiket kepulangan kami pada sore hari, maka kami menyempatkan untuk membeli sedikit oleh-oleh di gudang oleh-oleh. Disana cukup luas dan lengkap. Ada berbagai macam keripik buah. Mulai dari keripik apel hingga salak pun ada. Waktu makan siang telah tiba, kami memutuskan untuk makan cwie mie. Makanan ini mirip dengan bakwan Malang/Mie ayam, TAPI ini lebih nikmat dari pada kedua jenis mie tersebut. Jika kalian berkesempatan pergi ke Malang jangan lupa untuk mencoba CWIE MIE. Setelah makan siang kami pun menuju ke bandara untuk kembali ke Jakarta. Disinilah perjalanan kami di Malang berakhir. Semoga ada kesempatan untuk kembali ke Malang untuk menjelajahi tempat-tempat yang belum sempat aku kunjungi. Dan semoga bisa menjelajahi berbagai macam tempat yang lainnya. Selanjutnya akan pergi kemana ya?

© 2018 Template by Colorlib | Website by Uty Bonita